Menakar Sebuah Keadilan

Oleh DR. Yayat Suharyat (Jama’ah Majelis Dzikir As-Samawaat, Majelis Utsman bin Affan)
Kata ‘adil’ memang berasal dari bahasa Arab. Namun penggunaannya dalam kosa kata Indonesia sudah sangat akrab didengar. Adil memiliki makna keseimbangan (tawazun). Seimbang antara satu dengan yang lain. Atau dalam bahasa populernya adil diartikan sebagai upaya menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya (proporsinya).

Dalam bahasa Al Qur’an kata adil merupakan lawan kata zhalim. Zhalim yang disifatkan menjadi zhalimun memiliki arti sebagai orang-orang zhalim yakni orang-orang yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Dalam Al Quran kalimat yang berkonotasi seperti ini kurang lebih berjumlah 114 ayat. Dalam segala aspek kehidupan keadilan atau adil sangat diperlukan. Bahkan berlaku adil terhadap diri sendiri juga merupakan tuntutan kehidupan bagi seorang muslim.

Kata ’adil’ berkaitan langsung dengan bidang hukum. Setiap penegak hukum, Allah wajibkan untuk dapat berlaku adil. Walaupun keadilan merupakan barang langka di Indonesia, namun bukan tidak mungkin dapat ditemukan rasa keadilan tersebut, perilaku yang berkeadilan dan implementasi hokum yang adil di Indonesia.

Hal ini setidak-tidaknya harapan yang menghunjam ke dalam hati, ketika menghadiri sidang perdana saudara sesama muslim yaitu Bapak Mayjen.Suwarna yang kebetulan pula menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Timur. Miris memang perasaan, bila melihat saudara sesama muslim harus berhadapan dengan meja hijau, tetapi sebuah kebenaran memang harus ditegakkan. Menegakkan kebenaran adalah merupakan panggilan hidup muslim, bila kita tertarik dengan panggilan hidup yang sebenarnya. Seorang hakim hendaknya menyandarkan putusannya pada nurani hukum.

Seorang hakim yang memiliki nurani adalah mereka yang menyandarkan hidupnya pada kekuatan al Qur’an. Surat6: 114 Allah SWT berfirman, ”pantaskah aku mencari hakim selain Allah SWT. Padahal Dialah yang menurunkan Kitab (Al Quran) kepadamu secara rinci. Orang-orang yang telah Kami beri kitab mengetahui benar bahwa (AlQuran) itu diturunkan dari Tuhanmu dengan benar. Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu”.

Jadi hakim yang paling benar adalah Allah SWT, seorang hakim bila ingin menghasilkan keputusan yang benar dan adil, ia harus belajar melalui Al Quran mengenai keadilan. Artinya di sini bahwa seorang hakim yang adil adalah mereka yang istiqomah dalam hidupnya dengan mempedomani Al Quranul Karim sebagai landasan berpijak.
Atas nama hukum dan kebenaran, maka seorang hakim tidak boleh sewenang-wenang dalam memutuskan suatu perkara. Sebab bila salah memutuskan maka akan berakibat sangat buruk bagi orang yang terkena (terdakwa). Proses peradilan di alam kehidupan duniawi memang menggambarkan betapa proses penyelesaian suatu perilaku yang diduga melanggar aturan memang bukan sesuatu hal yang menyenangkan bagi terdakwa.

Namun sayangnya banyak orang-orang tertentu (terutama) kalangan praktisi hukum yang senang mempermainkan hukum sesuai dengan keinginannya bukan atas dasar obyektifitas semata. Ini menjadi titik tolak yang perlu dikaji secara serius dan mendalam, karena hakim yang berlaku zhalim akan ditempatkan Allah pada keraknya neraka. Dalam surat Al Kahfi (18:87) Allah SWT telah benar-benar memberikan warning kepada siapapun yang berlaku zhalim akan mendapat teguran keras oleh Allah. ”Barang siapa berbuat zalim, kami akan menghukumnya, lalu dia akan dikembalikan kepada Tuhannya, kemudian Tuhan mengazabnya dengan azab yang sangat keras.
Seharusnya seorang hakim mempunyai perilaku bijaksana sesuai dengan namanya yaitu al hakim (yang maha bijaksana). Dengan pengetahuan yang terbatas, semestinya seorang hakim selalu menyandarkan keputusan pada pengetahuan yang Allah SWT berikan.

Hal ini sesuai firman Allah dalam surat 2:32: Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang maha mengetahui lagi maha bijaksana. Sebenarnya terjemahan hakim dengan maha bijaksana kurang tepat, karena arti hakim ialah: yang mempunyai hikmah. Hikmah ialah penciptaan dan penggunaan sesuatu sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya. Di sini diartikan dengan Maha Bijaksana karena dianggap arti tersebut hampir mendekati arti hakim.
Pemaparan tentang rasa adil dan keadilan itu sendiri telah pula diungkap secara jelas di dalam surat An Nisa (4) ayat 58 yaitu: ” Sungguh Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh sebaik-baiknya yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh Allah maha mendengar dan maha melihat.”

Perilaku siapapun dalam kehidupan ini selalu terpantau Allah SWT, dengan demikian maka seorang hakim tidak akan mampu menyembunyikan keinginanhatinya untuk berlaku curang dalam kehidupan, apalagi sampai berbuat melakukan kecurangan. Tentunya Allah telah siap memberikan ganjaran yang teramat pedih bagi hakim yang melakukan
perbuatan zhalim.
Abstraksi kehidupan yang berjalan pada setiap diri individu harus memiliki kemampuan untuk secara cerdas berpotensi menjaga diri agar tetap berada pada koridor aturan Allah SWT. Hakim yang berlaku curang, hampir mirip dengan seorang pedagang yang berlaku curang dalam perdagangannya. Al Quran surat 83:1-3 memberikan gambaran sebagai berikut: (1) Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang), (2) (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan. (3) dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.

Memberi pertimbangan dan menetapkan suatu keputusan hukum juga identik dengan memberi takaran pada barang yang diperjual belikan. Sulitnya adalah takaran keputusan hukum lebih bersifat abstrak dengan nurani yang sangat penting di kedepankan. Sedangkan pada takaran barang dagangan maka barang yang diperjual belikan ditakar dengan alat yang tersedia berupa timbangan (neraca). Oleh karena itu maka neraca yang digunakan untuk memutuskan hukum harus bersih dari berbagai macam kekotoran. Sarana yang paling mudah untuk membersihkan hati adalah ajaran agama yang terkandung dalam Al Quran dan sunah yang rasul jalankan sebagai contoh untuk umat manusia.
Dalam konteks yang sangat umum seorang hakim yang berlaku curang telah mengabaikan amanat Allah. Jika benar-benar ia telah mengabaikan amanat Allah padahal ia benar-benar tahu bahwa hal itu merupakan pekerjaan khianat, maka sudah pasti Allah akan memberikan teguran keras dalam kehidupannya. Dalam surat 8:27, dijelaskan Allah secara terbuka bahwa wahai orang-orang yang beriman ! janganlah kamu mengkhianati Allah dan rasul dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.
Perintah berlaku adil tertuang pula dalam surat 16: 90, yaitu ”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang melakukan perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. Berbuat adil dalam hal ini tidak hanya berkaitan dengan konteks hukum tetapi dalam seluruh kehidupan manusia. Oleh karena itu maka bagi seorang penegak hukum, prosesi keadilan yang dihasilkannya akan berimbas pada sekurang-kurangnya dua dimensi yaitu; dimensi kehidupan dunia dan dimensi kehidupan akhirat.

Kehati-hatian dalam memutuskan suatu putusan hukum semakin memperkuat opini penegak hukum di tengah-tengah masyarakat sebagai penegak hukum yang bersih, berwibawa dan bermartabat. Ke depan secara jangka panjang maka, masa depan supremasi hukum di Indonesia menjadi semakin baik dan dapat diandalkan. Mudah-mudahan. Amin Ya Rabbal Alamiin (YS).

Sumber as-samawaat.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s