Menyambut Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Kutipan dari Majalah As-Samawaat/No. 02/Tahun II/1-28 Februari 2008/3-10 Muharram – Safar 1428 H yang ditulis oleh Ustadz H. Mulyadi Mughni, SAg.

Makna Isra’

Isra’ artinya perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain, dalam hal ini Rasulullah diperjalankan oleh Allah pada malam hari dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjid Al Aqsa di Palestina dalam kisaran waktu yang singkat, sebelum sampai ke Palestina Rasulullah singgah di beberapa tempat yakni Yastrib, Syajarati Musa, Baitullah dan beberapa tempat lainnya. Pada setiap tempat yang disinggahinya Beliau senantiasa melakukan shalat serta mempelajari dan melakukan penelitian, karena tempat-tempat yang Beliau singgahi memiliki keistimewaan seperti Masjidil Aqsa tempat turunnya wahyu Allah kepada beberapa nabi, kepada Nabi Musa dan Nabi Isa AS.

Daerah ini merupakan perbatasan antara Timur dengan Barat dimana sejak masa pemerintahan Mesopotamia, Syiria sampai pada masa berdirinya kerajaan Phunicia dan Isarael. Di jaman Nabi Daud kota Jerussalem dijadikan pusat pemerintahan yang kemudian daerah tersebut sampai saling bergantinya pemerintahan, yang memberikan berbagai macam bahan dan perlengkapan serta cermin perbandingan kepada Beliau sebagai pemimpin dan pembimbing umat yang akan menegakkan suatu pemerintahan yang kokoh dan kuat dan teratur, juga guna mempersiapkan kepemimpinan Beliau sebagai pemimpin umat di dunia.

Pesan Isra’ ini agar dari setiap apa yang kita lihat hendaknya jadikan pelajaran dan hikmah, hingga cia-cita Beliau tercapai dan mengagumkan sejarawan dunia.

Makna Mi’raj

Sedemikian hebat perjalanan Rasulullah hingga sampai ke Masjidil Aqsa, belum usai terkesima dengan perjalanan tersebut yang sungguh teramat dahsyat, Rasulullah mi’raj (naik) dari langit pertama sampai langit ketujuh hingga ke sidratulmuntaha (langit tertinggi); namun, sebelum Rasulullah naik ke sidratulmuntaha di beberapa langit yang Beliau lalui Beliau bertemu dengan para nabi-nabi terdahulu.

Pada langit pertama berjumpa dengan Nabi Idris, dilangit kelima berjumpa dengan Nabi Musa AS dan dilangit ketujuh berjumpa dengan Nabi Ibrahim AS, semua nabi yang Beliau temui dalam rangka mempelajari apa yang menjadikan kemajuan dan kegagalan dalam membawa risalah dari Allah SWT, hingga ini dijadikan cermin oleh Rasul. Walaupun keberadaan para nabi yang dijumpai Rasulullah dilangit yang berbeda bukan berarti mempunyai makna bahwa maqam para nabi berbeda-beda. Hal ini dijelaskan oleh Allawa dalam Surat Al Baqarah ayat 285 “Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan Rasul-rasulNya. Mereka mengatakan, Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari Rasul-rasulNya.”

Paparan demi paparan yang diberikan dari seluruh ambiya dari Nabi Adam sampai Nabi Ibrahim semua diterima oleh Rasulullah SAW, bagaimana sejarah Nabi Asam, Nabi Yahya hingga dilangit ketujuh, Nabi Ibrahim AS sebagai perbekalan Beliau dalam meneruskan estafet perjuangan menegakkan kalimatullah di muka bumi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT. Sungguh suatu perjuangan yang amat besar yang harus terus dilakukan walaupun sangat banyak halangan dan rintangan yang pastinya akan terus menghiasi perjalanan menuju ridho Allah. Jibril yang setia mengantarkan Rasulullah dari langit pertama hingga ketujuh tak kuasa lagi menemani Rasul dan mempersialhkan terus ke sidratulmuntaha seorang diri, hal ini diisuaratkan bahwa Jibril tidak punya kepentingan apa-apa dalam perjalanan Rasulullah SAW.

Shalat Buah Perjalanan Mi’raj

Makna batin Shalat cara menghadirkan Hari

Ketahuilah bahwa seorang muslim haruslah selalu ta’zim kepada Allah SWT, takut kepadaNya, mengharap dariNya dan malu kepadaNya disebabkan kelalaian yang dilakukan terhadapNya.

Setelah beriman kepadaNya, ia tidak akan terlepas dari keadaan-keadaan ini. Jika kekuatan keadaan-keadaan ini seimbang dengan kekuatan yakinnya, ia pun tidak akan terlepas darinya dalam shalatnya kecuali pada saat kacaunya pikiran, buyarnya konsentrasi dan terjauhkannya itu meninmbulkan kelengahan dalam shalat. Tak sesuatu pun dapat mengacaukan shalat, kecuali pikiran-pikiran yang melintas yang menyibukkan manusia. Karena itu, obat paling baik untuk menghadirkan hati ialah menolak pikiran-pikiran tersebut. Oleh sebab itu, pelajarilah penyebab-penyebabnya.

Adapun penyebab-penyebabnya bisa datang dari luar atau dari dalam sendiri. Penyebab dari luar ialah suara yang menyentuh telinga atau sesuatu yang tampak di depan mata. Kedua-duanya menarik perhatian seseorang yang kemudian mengikutinya dan menyibukkan diri dengannya. Pikiran pun merambat kesana kemari dan makin lama makin bercabang. Demikian pula, sesuatu yang tampak di depan mata akan menyebabkan timbulnya berbagai pikiran, yang kemudian berkembang dan saling bersambungan. Bagi orang yuang kuat niatnya dan tinggi himmah-nya semua itu tidak akan mengganggunyal akan tetapi, pikiran orang yuang lemah pasti terkacaukan karenanya. Cara mengatasinya ialah ‘memotong’ penyebab-penyebab gangguan ini. Yakni dengan menundukkan pandangan atau melaksanakan shalat di suatu tempat yang gelap, misalnya. Atau, dengan tidak membiarkan sesuatu di hadapannya yang dapat menyibukkan inderanya. Atau, dengan mendekat dinding sehingga lingkup pandangannya mejadi sempit.

Untuk itu pula ia hendaknya menghindari shalat di jalanan orang, atau ditempat yang berwarna-warni. Banyak dari para ahli ibadah memilihj beribadah di ruangan-ruangan yang semput dan gelap. Kadang-kadang luasnya hanya sekadar uuntuk bersujud saja agar lebih sesuai untuk memuasatkan himmah. Banyak dari mereka yang tergolong kuat himmahnya.

Menghadiri shalat di masjid sambil menundukkan pandangan dan membatasinya hanya di tempat sujud saja. Bagi mereka, diantara persyaratan kesempurnaan shalat ialah tidak mengenali siapa yang ada di sebelah kanan dan kiri mereka. Ibnu Umar RA selalu menyingkirkan apa saja yang berada di tempat shalatnya. Baik berupa mushaf, pedang, kitab adan sebagainya.

Adapun penyebab-penyebab yang bersifat bathiniah, keadaannya lebih rumit dan lebih berat, Seseorang yang keinginan-keinginannya bercabang-cabang di lembah-lembah dunia, tidak mungkin mampu memusatkan pikirannya itu akan terbang kesana kemari. Menundukkan pandangan pun tidak berguna baginya, karena hatinya cukup parah dengan hal-hal yang menyibukkannya.

Orang seperti ini sebaiknya memaksa dirinya untuk berusaha memahami apa yang dibacanya agar dengan begitu menyibukkannya dari segala sesuatu selainnya. Mungkin akan bermanfaat baginya seandaianya ia menyiapkan dirinya sendiri sebelumnya bertakbiratul ihram. Yaitu, dengan mengingatkannya akan dahsyatnya suasana akhirat kelak ia akan berdiri di tempat munajat serta beratnya detik-detik berdiri di hadapan Allah SWT Yang Maha Mengetahui segala-alanya. Hendaknya ia, sebelum memulai shalatnya, mengosongkan hatinya dari apa saja yang mengganggu pikiran, sehingga tidak membiarkan kesibukkan yang apapun yang dapat memalingkan pikirannya. Sabda Rasulullah SAW kepada Usman bin Abi Syaibah: “Saya lupa tidak memberikan tahu Anda agar menutupi kedua sudut di Rumah (maksudnya Ka’bah, Rumah Allah). Tak sepantasnya ada sesuatu di sana yang mengalihkan perhatian orang dari shalat mereka.”

Begitulah salah satu cara menenangkan pikiran. Kalaupun dengan obat penenang seperti ini, gejolak pikiran tidak juga mereda, patutlah ia diberi obat pencahar (urus-urus) yang menguras penyakit dari kedalaman urat-urat. Yakni dengan menyelidiki hal-hal apa saja yang mengalihkan perhatian dan menyibukkannya dari upaya penghadiran hatinya. Tak pelak lagi, itu pasti bersumber dari hal-hal tertentu yang dipertimbangkan wajiblah ia menghukum dirinya sendiri dengan meninggalkan sama sekali apa yang menjadi kecenderungan nafsunya dan memotong segala kaitan dengannya.

Sumber as-samawaat.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s