Mempersiapkan Diri Menuju Hijrah Sebenarnya


Oleh DR. Yayat Suharyat (Jama’ah Majelis Dzikir As-Samawaat, Distrik Utsman bin Affan)


A. Pengantar

Setiap perbuatan baik harus dijaga kelestariannya, karena sangat sulit menjaga kebaikan agar tetap ada dan bersemayam di dalam hati kita masing-masing.

Setiap kejahatan harus terlepas dari kebiasaan jiwa, karena akan mengotori bathin dan ruh yang suci. Allah tidak merubah kebiasaan suatu kaum sehingga kaum itu mau merubah kebiasaan yang ada pada diri mereka sendiri ( QS, 13:11).

Sesungguhnya kebaikan itu sesuatu yang dirindukan kehadirannya oleh siapapun. Setiap orang ingin melakukan perbuatan yang baik (amal shaleh), namun mungkin ia tidak terbiasa melakukannya atau bahkan tidak memakssakan diri untuk melakukannya.

Bagi orang lain pun perbuatan baik sangat penting, karena setiap orang lain ingin diperlakukan dengan baik oleh orang yang lain pula.

Berbuat kebaikan demikian sulit, karena dorongan hawa nafsu manusia begitu besar untuk tidak mau melakukannya. Apalagi jika peran setan sudah bermain di dalam hati manusia.

Padahal antara peluang berbuat baik dengan peluang berbuat jahat sama besarnya, tetapi mengapa manusia lebih berkeinginan melakukan kejahatan daripada kebaikan?

Di sisi lain kebaikan akan menorehkan nama yang indah di waktu seseorang masih hidup; juga ketika ia telah meninggal (akan dikenang orang, walalupun ia sendiri tidak pernah meminta untuk dikenang).

Kebaikan akan membuat harum keluarga yang ditinggalkan, membuat bangga lembaga yang ditinggalkan. Tidak ada sisi kebaikan yang tidak berguna untuk siapapun.

Untuk tumbuhan dan hewan juga membutuhkan kebaikan manusia. Bila telah bertumbuh kebaikan yang awalnya dipaksakan kemudian menjadi kebiasaan, secara terus-menerus sepanjang hidup bahkan terus ditingkatkan.

Maka itulah yang disebut hijrah, jadi hijrah adalah; akhlak, moral, dan etika. Dalam bahasa spiritual akhlak adalah; tauhid (iman), ilmu, dan amal yang kesemuanya untuk penghambaan diri kepada Allah SWT. Persiapkanlah diri kita untuk berhijrah, karena hijrah itu bagian hidup yang tertinggi bagi seorang hamba yaitu iman (tauhid).

B. Proses Kejadian Manusia merupakan Manifestasi Hijrah

Di dalam surat Al Mu’minun (23:12-16) Allah berfirman: (12). Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. (13). Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). (14). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik. (15). Kemudian setelah itu, sungguh kamu pasti mati. (16). Kemudian, sungguh kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari kiamat.

Dari rangkaian ayat di atas menunjukkan kisah siklus kehidupan manusia dari satu tempat ke tempat yang lain.

Manusia berpindah tempat atau berpindah wujud secara alamiah atas izin Allah dari tidak adanya menjadi ada atas izin Allah karena Allah yang memperjalankan.

Boleh dikatakan dengan kalimat lain adalah; Allah menciptakan siklus manusia dari sesuatu yang tidak memiliki harga (martabat yang rendah) berupa air mani, kemudian dengan proses pertemuan dengan kaum hawa terciptalah keterpaduan yang secara gradual makin lama-makin baik sehingga mencapai puncak kebaikan bentuk (kesempurnaan) bentuk sebagai manusia di sisi Allah.

Tetapi siklus selanjutnya adalah lemahnya lagi kondisi manusia (usia tua), fisik menjadi lemah. Ini menunjukkan siklus terlemah kondisi manusia, manusia kembali lagi ke alam dengan martabat yang rendah (sudah tua) tidak lagi bekerja, tidak memiliki penghasilan yang pasti, kondisi fisik tidak lagi menarik. Ini ciri kelemahan fisik yang menunjukkan keadaan tidak (sudah berkurang) ke-bergunaannya.

Makin memperjelas makna hijrah (perpindahan tempat dan perpindahan bentuk), maka proses terjadinya hijraj adalah atas keinginan dan iradah Allah.

Ketika manusia makan dan minum maka semuanya merupakan bagian penting dalam perubahan dirinya. Karena makanan yang dimakannya akan menjadi zat penghasil air mani untuk calon anak yang akan menjadi keturunannya.

Begitu pula bagi kaum wanita, akan menjadi sel telur dari apa yang dimakan dan diminumnya. Makan dan minum sebagai proses awal terjadinya hijrah (perubahan) bentuk, bahkan sebagai kejadian penting manusia, menunjukkan bahwa dalam proses hijrah ada energi dan dorongan atau kekuatan.

Energi makan dan minum sebenarnya hanya wasilah (perantara) secara syariati, sejatinya kekuatan fisik dan psikis dikonsepsi oleh kekuatan bathin yang manusia miliki.

Sehingga dalam berbagai kesempatan Allah selalu katakan tentang, Dia Allah yang selalu (paling) mengawali, Dia Allah yang selalu membuat akhir perjalanan makhluknya, Dia Allah yang selalu memberi petunjuk baik Dzahir dan Bathin.

Makan dan minum adalah kejadian dzahir (yang tampak) oleh inderawi bahkan dapat dirasakan nikmatnya. Tetapi bathin manusia belum tentu terukur rasa syukurnya kepada Allah atas makanan itu.

Oleh karena itu banyak orang melakukan kegiatan makan dan minum tetapi tidak menunjukkan keinginan berhijrah dalam dirinya. Karena ia makan hanya sekadar makan dan minum belum tahu sesungguhnya untuk apa ia makan dan minum.

Jawabannya adalah kita melakukan makan dan minum untuk makin memahami Allah, taqarrub illallah.

Perubahan bentuk dari sesuatu yang tidak berguna, menjadi sangat berguna kemudian menjadi lemah dan tidak berguna lagi atau lebih tepatnya kebergunaan manusia menjadi berkurang.

Sudah barang tentu ini adalah hijrah alamiah, sebuah siklus yang paling mudah diamati, karena merupakan proses empirik yang dapat diamati. Berproses dari batita-balita-anak kecil (usia sekolah), remaja awal-remaja akhir, dewasa (menikah), tua dan akhirnya mati.

Itulah fenomena akhir surat Al Mu’minun yang terkandung di dalam al Qur’an firman Allah yang wajib diyakini keseluruhan kebenarannya.

Bila fisik anak-anak hanya untuk menangis, tertawa, makan minum, dan bersedih dalam rangka internalisasi kehidupan nyata. Fisik remaja untuk bermain, belajar, beribadah, berkomunikasi (bersosialisasi) dengan teman dan lingkungan.

Fisik dewasa untuk bereproduksi, istirahat, bekerja, dan beribadah (mahdhoh). Fisik tua untuk istirahat dan ibadah, bekerja tidak lagi menjadi dominan. Selanjutnya selesai sudah perikehidupan di dunia, karena kerentaan.

Tetapi bukan itu yang kita harapkan, di waktu kondisi fisik masih sehat hijrah menjadi sangat nyaman dan mudah, sayangnya ketika itu kita masih berusia muda. Ketika masih muda biasanya prosentase pikiran menikmati hidup dengan cara senang-senang lebih tinggi ketimbang bersusah payah menempa iman dan ketaqwaan.

Sesungguhnya ketika di waktu tua, ibadah seharusnya meningkat kepada Allah malah menjadi terdegradasi kepada urutan juru kunci. Bahkan (audzubillah) di waktu tua bukan banyak beribadah kepada Allah, malah makin jauh dari-Nya.

Fisik sakit mengeluh, kurang penglihatan dan pendengaran. Kulit mengeriput, rambut memutih, persendian pegal linu, kaki rematik tidak tertempa dalam konsep tauhid yang kuat maka yang ada di usia tua adalah keluhan.

Mengeluh kepada diri sendiri dan bahkan menyayangkan kenapa di usia tua kok menjadi penyakitan, sulit ibadah. Mengapa Allah SWT kasih dia kedaan seperti itu ? jawabannya adalah karena seseorang itu telah salah mempersiapkan diri untuk hijrah di masa sehatnya, di masa mudanya menuju masa tuanya.

Hijrah butuh persiapan dan butuh perencanaan. Al hasil hijrah butuh manajemen yang komprehensif, karena hijrah itu akan berlangsung secara alamiah, ketika manusia tidak siap maka yang terjadi bukan tahadus bi nikmah, tetapi kufur nikmat (audzubillah).

Siklus kehidupan manusia ternyata merupakan manifestasi hijrah yang hakiki. Siap tidak siap akan terjadi, maka lebih baik siapkan diri menuju hijrah melalui penataan yang benar secara syariat, tauhid yang semakin mantap, hakikat dzahiran dapat ditangkap menuju ma’rifat yang bathin sehingga beranjak dari bayi-anak-remaja menuju dewasa dan tua sebagai qolbun salim.

C. Langkah-langkah Mempersiapkan Hijrah

Manajemen dan strategi mempersiapkan hijrah adalah (1) menuntut ilmu agama, (2) belajar mempraktikkannya-amal shalih, (3) dibimbing mursyid (guru), (4) sabar dalam kehidupan (5) istiqomah dalam kehidupan, (6) muroqobah dalam kehidupan dan mengembangkan sifat-sifat abdun dalam diri.

(1). Menuntut Ilmu Agama.

Dalam kondisi tubuh dan psikis yang galau, banyak berpenyakit. Biasanya orang baru ingin mengenal agamanya. Agama hanya sandaran setelah tua, di waktu muda ia dekat dengan gemerlap hidup.

Bergaul dengan kalangan pejabat, berteman dengan orang terpandang yang kesemuanya diukur dari sudut pandang manusia begitu mempesona.

Banyak teman, kolega, dan koneksi di dalam kehidupan mudanya, ternyata sepi setelah menjadi tua. Bathin memberontak, jiwa tidak tenang karena manusia berkecamuk dengan nafsu.

Ada tiga macam jiwa yang dipengaruhi nafsu yaitu nafsu ammarah (jiwa yang selalu menyuruh desktruktif), nafsu lawwamah (jiwa yang selalu menyesali), nafsu muthmainnah (jiwa yang selalu tenang).

Agama jangan dihampiri ketika sudah menjadi tua, sulit beragama ketika sudah berusia lanjut karena kelemahan fisik. Dari awal sudah tertanam rasa iman dan ketqwaan tinggal menstabilkannya di usia tua. Menjadi tua bukan keinginan manusia, tetapi mau atau tidak kita akan mengjadapi ketuaan. Masalahnya sudah siapkah kita, ketika di usia tua makin tenang dalam kehidupan. Ketika semuanya serba lemah dan kekurangan sudah ikhlaskah kita menerimanya.

Tidak ada kata lain untuk menenangkan jiwa adalah al Quran, mulai sekarang mendekat kepada al Quran. Mempelajari alquran, mengamalkan al Quran mencari mukjizat al Quran (dhuror dan jawahir) quran hanya akan bisa dipahami melalui dari orang yang ingin belajar al Quran.

Tidak akan salah dan tersesat belajar mengamalkan al Quran. Cari guru yang tepat dan bijak sebagai pengamal al Quran, bukan pendusta agama atau pendusta al Quran.

Guru yang mengamalkan al Quran tidak banyak, namun dari jumlah yang sedikit itu menunjukkan tidak semua orang dapat menjadi guru dengan landasan al Quran, seperti tidak banyak pula orang yang menjadi murid dari guru pengamal al Quran.

Terkadang si pengemal al Quran dihina, caci-maki, diisolir dari kehidupan duniawi. Itulah tantangan pengamal ajaran agama, menjadi orang yang gandrung kepada al Quran menghantarkan kita tahu siapa rasul kita.

Tahu sunahnya, tahu ajarannya, dan tahu keutamaannya. Kemudian belajar mengamalkannya dengan perbuatan. Orang yang seperti ini hanya bisa diproduk dari keinginan yang kuat untuk memahami ajaran agamanya dengan benar melalui menuntut ilmu. Hadiri dan datangi majelis orang berilmu pengamal al Quran, karena dengan begitu kita akan dibawanya kepada Allah secara hakiki.

Surat An Nisa: 162, Allah menyampaikan ciri orang yang beruntung yaitu orang-orang yang ilmunya mendalam di antara mereka dan orang-orang yang beriman, mereka beriman kepada (al Quran) yang diturunkan kepadamu (Muhammad), dan kepada kitab-kitab yang diturunkan sebelummu, begitu pula mereka melaksanakan shalat dan mennaikan zakat dan beriman kepada Allah dan hari akhirat. Kepada mereka akan Kami berikan pahala yang besar.

Begitu pula keutamaan ilmu sebenarnya tiada lain kecuali adalah keyakinan sepenuhnya kepada al Quran. Allah menyampaikan bahwa: “ dan orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa (al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya. Dan sungguh Allah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus” (QS Al Hajj:54).

(2). Belajar Mempraktikkan agama dalam bentuk amal shalih

Beramal shalih tidak identik dengan berbuat baik. Di dalam amal shalih harus ada niat terlebih dahulu, juga di dalamnya mengandung unsur riyadhoh (memuji kebesaran Allah).

Al Quran bukan sesuatu yang pasif, ia adalah sesuatu yang sangat kondusif untuk segala zaman. Siapapun yang berhidup dalam dunia ini akan berkarakter tauhid bila dalam beramal shalih tatanannya adalah al Quran. Rasulullah Muhammad SAW akhlaknya al Quran, beramal shalih yang tidak dilandasi al Quran akan menjadi pengawal syaithon.

Rusaknya amal ibadah kita sangat mudah, bila sudah ada sedikit saja kesombongan tentu akan berterbangan dibawa angin gurun sehingga tiada tersisa sedikitpun.

Seakan-akan sudah banyak mengumpulkan amal shalih padahal telah habis dimakan kesombongan kita sendiri. Beramal dalam rangka ibadah dan bukti tauhid tiada lain untuk membela agama Allah melalui tuntunan tauhid. Jadi ketika seseorang melakukan amal perbuatan yang baik, niatnya adalah meninggikan ajaran rasulullah Muhammad SAW, meninggikan al Quran kitab suci kita.

Jadi, bukan kita yang pada akhirnya tersanjung dan populer di hadapan manusia, hanya manusia itu sadar kalau ia telah diajarkan oleh Allah mengenai kebaikan. Jadi, Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Kaya yang terangkat, bukan manusia yang maha lemah “nebeng” ingin tinggi dan disebut kaya oleh manusia lainnya.

Selamat bertauhid, karena itu selamat menuju iman yang sebenarnya. Jangan mengaku bertauhid kalau masih ada yang lain di hati. Karena Allah selalu berbuat baik kepada hambanya tiada pernah mengenal waktu, dan tempat.

Jangan berlaku dzalim mengakui kebaikan Allah untuk kepentingan duniawi kita. Allah sumber kebaikan dan amal shalih, manusia hanya mengikuti ajaran Allah. Manusia bahkan sumber kerusakan, kehancuran, kesalahan dan ketidaksempurnaan, terkecuali ia benar-benar telah merasakan bimbingan Allah dalam al Quran.

Dari Jabir ra. berkata, rasulullah saw bersabda: Setiap perbuatan baik itu sedekah”. Sehingga kalimat sedekah ini makin diperjelas oleh rasulullah Muhammad SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim yaitu dari Abu Musa Al Asy’ari dari Nabi saw., beliau bersabda:

“Setiap Muslim itu wajib bersedekah.” Bagaimana seandainya ia tidak mempunyai apa-apa?

Beliau menjawab: hendaknya berbuat dengan kedua tangannya sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan untuk dirinya dan untuk disedekahkan”.

Ia bertanya: “Bagaimana seandainya ia tidak mampu untuk berbuat seperti itu?” Beliau menjawab: “Hendaknya ia membantu orang yang sangat membutuhkan bantuan itu”.

Ia bertanya:”Bagaimana seandainya ia tidak mampu untuk memberi bantuan ?” Beliau menjawab: “Hendaknya ia menyuruh orang lain untuk berbuat baik”. Ia bertanya lagi: “ Bagaimana seandainya ia juga tidak mampu untuk berbuat baik seperti itu ?” Beliau menjawab: “Hendaknya ia mencegah dirinya dari perbuatan keji, karena mencegah dirinya dari perbuatan keji itu termasuk sedekah.

Jelas sudah pernyataan rasul di atas memperjelas posisi berbuat baik di sisi Allah, dengan cara apapun manusia dapat berbuat baik asal dia mau melakukannya. Banyak jalan dan cara untuk berbuat kebaikan, karena Allah Sumber Kebaikan.

Allah hanya akan menerima kembali manusia-manusia yang secara terus-menerus menyeru kebaikan, melakukan kebaikan, mencegah dirinya berbuat keji dan mensucikan dirinya dengan cahaya iman. Allah selalu menyeru manusia untuk berbuat kebaikan di dalam al Quran, ayatnya begitu banyak.

Prinsip bagi seorang muslim seharusnya adalah tidak ada ruang dan waktu untuk berbuat maksiat (maksiat perilaku dan maksiat hati) karena itu perbuatan tidak baik.

Setiap perbuatan baik selalu terbuka untuk diaktualisasikan, karena perbuatan baik itu sama banyaknya barangkali dengan jumlah bintang di langit ditambah jumlah bulu hewan di tubuhnya dan sama banyaknya dengan rambut di kepala kita. Hitung sendiri, mana mungkin kita tidak mau berbuat baik dan mengotori hati dan perbuatan dengan kemaksiatan. Sedang di sisi lain Allah begitu membuka peluang untuk kita agar tetap berbuat baik.

(3) Dibimbing Mursyid

Belajar agama harus memiliki guru, konteksnya dalam ilmu tasawuf adalah mursyid sang pemberi petunjuk. Belajar tanpa guru jangan berharap bisa memperoleh jalan lurus.

Khawatir malah terperosok pada kedangkalan iman, kejumudan pikiran dan bahkan jatuhnya kita pada kesyirikan. Janganlah belajar ilmu apalagi ilmu agama bukan dari seorang yang fasih teori dan praktik beragama.

Mereka yang memiliki ilmu yaitu para ulama adalah pewaris para nabi. Karena ilmu yang dimiliki benar-benar dikonsumsi secara benar oleh pengikutnya. Di dalam berdakwah nabi tidak pernah terbetik hawa nafsu sedikitpun, apalagi mengambil manfaat di dalamnya.

Oleh karena itu kita cari ilmuwan agama yang seperti itu, yaitu yang seluruh hidupnya benar-benar tercurah untuk agama. Walaupun ia memiliki dunia, namun ialah yang mengatur dunia untuk agama, berjuang di jalan agama, orang yang rasikh.

Ia menjadi deposan bagi Allah dengan mendepositkan umurnya, hartanya, kekuasaan dan jabatannya, hidupnya hanya untuk menunggu panggilan Allah sebagai hamba pilihan-Nya. Sesungguhnya ulama itu adalah orang yang sangat takut kepada Allah.

Kita harus menemukan dan mencari ulama yang sangat takut kepada Allah, sehingga dengan demikian ia akan dipelihara baik perbuatan maupun ucapannya oleh Allah dan ia akan selalu bersedia memenuhi panggilan Allah untuk berjihad dengan harta, nyawa, dan seluruh hidupnya hanya kepada Allah.

Itulah guru agama yang kita idamkan. Guru (mursyid) yang paham al Quran dan dengan optimal mengamalkan dengan seluruh jiwa raganya, mengamalkan syariat Islam dengan konsisten, berdoa bukan untuk dirinya, tetapi untuk umat Islam dan umat manusia seluruhnya, yang berpikiran progresif tentang strategi menyusun dakwah kemurnian tauhid, yang meninggikan dan cinta kepada Rasulullah Muhammad SAW, yang selalu menggelorakan cinta NKRI, cinta sangsaka merah putih dan begitu paham akan pentingnya kebangkitan Indonesia Raya. Itulah kepada mereka kita berguru untuk menemukan jalan lurus, ihdinas shiratal mustaqiim.

(4) sabar dalam kehidupan.

Menilik kata sabar berimbas akhirnya kepada kata ujian, cobaan dan lain sebagainya. Jadi bersabar merupakan bagian penting dari upaya manusia dalam rangka menata hati menuju kepasrahan diri.

Karena segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Menguatkan kesabaran dengan hati yang menerima karunia Allah secara penuh ikhlas dan tanggungjawab. Karunia dalam bentuk kebahagiaan, cobaan dan ujian yang dihadapi dalam kehidupan.

Dalam literatur al Quran, kata sabar berkait erat dengan shalat. Sabar dan shalat merupakan rangkaian ibadah yang harmonis, banyak bersabar dalam ibadah, khususnya ibadah shalat dan banyak melakukan shalat ketika seseorang ingin melakukan dialog (komunikasi) kepada Allah.

Sabar merupakan pelita (As Shabru Dhiyaun), rasulullah menyatakan demikian. Orang sabar adalah orang yang menjadi pelita dalam kegelapan hidup. Jadi cahayanya iman adalah al Quran tetapi pelita kehidupan itu sendiri merupakan kesabaran. Karena kesabaran itu sendiri merupakan anugerah Allah bagi seorang hamba. Sabda rasul “Seseorang tidak akan mendapatkan anugerah yang lebih baik atau lebih lapang melebihi kesabaran”. (riwayat muslim).

Dalam menuju hijrah kesabaran merupakan konsumsi penting dalam kehidupan dengan firman-Nya Allah SWT menjelaskan “Sungguh Kami benar-benar akan menguji kamu sekalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjuang dan orang-orang yang sabar di antara kamu sekalian”. (QS: 47:31). Sungguh luar biasa bahwa Allah menjadikan kehidupan ini sebagai ujian. Ujian untuk dapat berjuang dalam kehidupan sehingga nyata mana orang yang memiliki kesabaran dan mana yang sedikit atau tipis kesabarannya.

(5) Istiqomah Dalam Kehidupan

Persiapan menuju hijrah lainnya adalah istiqomah, dalam literatur Islam istiqomah disebut dengan teguh dalam pendirian. Dalam surat Hud (11:12) Allah SWT berfirman: tetap teguhlah kamu pada jalan yang benar sebagaimana yang telah diperintahkan kepadamu.

Begitu pula firman Allah dalam surat al Ahqaaf (46:13-14), “sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah”’ kemudian mereka tetap teguh dalam pendirian maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan.

Jadi sebuah perjalanan hijrah ditandai pula kesiapan untuk tidak bergeming dari kalimat tauhid. Kalimat tiada Tuhan selain Allah, Muhammad sebagai rasulullah.

Istiqomah adalah ketetapan dalam perbuatan yang tiada lain perbuatan itu merupakan jalan tauhid, jalan menuju ma’rifat kepada Allah. Jadi yang membuat seseorang akan selamat menuju surga bukan amal perbuatan, melainkan limpahan rahmat dan karunia-Nya.

Bekerja dengan penuh istiqomah adalah bekerja dengan landasan tauhid yang kokoh. Jangan berharap apapun kecuali Allah benar-benar telah menemukan kita dalam kelompok orang-orang menegakkan kalimat tauhid.

Tauhid baru dapat dihadirkan melalui berbagai kajian, bagian pertama merupakan kajian tauhid uluhiyah yang menyandarkan segala sesuatu kepada dzat Allah melalui ayat-ayat-ayat yang terkandung di dalam Al Quran.

Sedangkan yang kedua adalah tauhid rububiyyah yang berkaitan dengan afal-Nya (perbuatan), dan sifat-Nya yang terkandung di dalam penciptaan alam semesta berupa ayat-ayat qauniyah. Melalui cara inilah kita beristiqomah, selanjutnya dengan alasan apakah manusia menyatakan dirinya sebagai penantang Allah dalam hidup di dunia?

(6) Muroqobah dan sifat-sifat sebagai seorang abdun.

Muroqobah adalah kondisi ibadah seorang abdun yang selalu merasa dilihat dan diperhatikan Allah karena Allah memang akan selalu bersama-sama hamba-Nya yang beriman. Di dalam al Quran disebutkan bahwa “Allah senantiasa bersama kamu sekalian di mana pun kamu berada” (Al Hadid, 57:4).

Seorang hamba tidak bisa bergerak ke luar dari penglihatan Allah bila ia memang benar-benar beriman. Sesungguhnya Allah senantiasa benar-benar mengawasi gerak-gerik seorang hamba, baik dzahir maupun bathin.

Karena Allah betul-betul mengetahui pandangan mata yang berkianat dan mengetahui apa yang disembunyikan oleh hati. Di antara sifat muroqobah adalah seseorang yang mampu meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya (Riwayat Turmidzy).

Sesuatu yang perlu mendapat perhatian serius dalam pembahasan muroqobah adalah hadis yang diriwayatkan oleh Turmudzy dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Orang yang cerdik yaitu orang yang selalu menjaga dirinya dan beramal untuk bekal nanti sesudah mati. Dan orang yang kerdil yaitu orang yang hanya menuruti hawa nafsunya tetapi ia mengharapkan berbagai harapan kepada Allah”.

D. Penutup

Demikianlah, persiapan menuju hijrah sebenarnya adalah mempersiapkan kepada kematian. Siapapun harus siap, karena hidup terus berjalan tanpa kemampuan kita untuk menghentikannya. Setiap diri harus menjadi hamba yang ditunggu malaikat dan dirindukan Allah ketika menghadap-Nya.

Karena Allah sebagai sumber kebaikan sangat menunggu dan merindukan hamba-Nya yang shalih untuk bertemu dan saling memberi keberkahan dan karunia Allah SWT. Semoga kita termasuk dalam kelompok hamba-hamba yang selalu mendapat perlindungan dan naungan rahmat Allah SWT. Amin.


Sumber as-samawaat.org


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s