Memahami ‘Wujud’ Allah

Kali ini saya akan sharing pemahaman mengenai salah satu dari 20 sifat Allah yaitu ‘Wujud‘ (ﻭﺟﻮﺩ). Tentu saja saya hanya akan menafsirkan sebatas yang saya pahami, dan sangat sedikit, dapat diibaratkan seperti sebutir debu di lautan padang pasir.

Jadi jangan complain ya…🙂
Jangan berharap saya akan menerangkan dengan bahasa Pesantren, sebab saya bukan orang pesantren, dan saya tidak tahu banyak mengenai teori-teori agama…🙂

Selain itu perlu digaris-bawahi, bahwa saya tidak bermaksud menggurui. Ini hanyalah sebuah sharing pemahaman yang diketahui dan dirasakan oleh seorang yang belajar di As-Samawaat seperti saya..🙂

Oke, langsung kita mulai.

“Wujud” Allah

Wujud itu (kalau tidak salah) adalah sebuah kata dalam bahasa Arab, yang kemudian diadopsi oleh bahasa Indonesia.🙂

Wujud berarti ‘ada’. Baik ‘ada’ dalam konteks terlihat oleh mata, maupun ‘ada’ tapi tidak bisa terlihat oleh mata kita.

Contohnya binatang kucing. Pembaca pasti bisa melihat dengan mata telanjang ‘wujud’ dari kucing bukan…?

Semua makhluk hidup ataupun benda mati yang ada di alam jasadiah bisa terlihat oleh mata. Pembaca pasti tidak akan menemukan masalah dengan ‘wujud’ yang bisa terlihat dengan mata.

Lalu bagaimana dengan benda-benda atau makhluk yang tidak terlihat oleh mata…? Ini yang repot…

Kembali ke contoh kucing diatas. Apakah pembaca bisa melihat kucing itu yang berada dibalik dinding..?

Contoh lain, anggap saja sekarang ini pembaca sedang di rumah, apakah pembaca bisa melihat (dengan mata jasadiah) kondisi teman yang (misalnya) sedang ada di luar negri…? Jawabannya pasti tidak bisa.

Hal ini disebabkan penglihatan jasadiah kita sangatlah terbatas.

Apakah (kira-kira) pembaca tahu apa yang sekarang sedang saya lakukan…? Jawabannya lagi-lagi tidak…

Jangankan yang keberadaannya jauh, benda yang ada di dekat kita saja bisa tidak terlihat oleh penglihatan jasadiah kita. Contoh: keberadaan suatu benda yang ada di balik tembok. Padahal keberadaannya sangat dekat, hanya saja tidak terlihat oleh karena adanya hijab (penghalang) yaitu tembok.

Oke, sampai disini tentu pembaca sudah paham maksud saya. Bahwa apa saja yang tidak terlihat oleh mata – belum tentu tidak ada. Dia ada – hanya kita tidak bisa melihatnya.

Sama halnya dengan “Wujud” Allah ini. Allah itu ada – cuma kita tidak bisa melihatnya dengan pandangan jasadiah kita yang sungguh terbatas. Jangankan melihat Allah, melihat benda dibalik tembok saja kita tidak bisa. Pertanyaannya, apakah (mentang-mentang) kita tidak bisa melihat Allah lalu kita meng-klaim bahwa Allah itu tidak ada…?🙂

Karena “Wujud” Allah tidak terlihat oleh mata – maka jangan heran kalau banyak orang tidak meyakini keberadaan Allah sedang ada di dekat kita. Malah ada orang yang tidak meyakini adanya Tuhan (Atheis). Apakah itu salah…? Tentu saja tidak salah – sebab dia belum tahu.

Yang lebih parah, ada orang yang (mengaku) beriman kepada Allah, tapi dia tidak bisa “merasakan” keberadaanNYA.

Kata kuncinya adalah :

  1. Bahwa ‘wujud’ Allah secara ‘fisik’ tidak bisa kita gambarkan. Alasannya karena Allah adalah Zat. Semua yang bisa kita gambarkan namanya ‘makhluk’. Allah kan bukan ‘makhluk’, Allah yang menciptakan makhluk. Jadi ‘wujud’ Allah secara fisik sudah bukan domain (wilayah) untuk dimasuki. Jika kita berkutat dengan ‘wujud’ Allah secara fisik, alamat… kita sudah berada di luar jalur.
  2. Keberadaan atau ” Wujud” Allah memang tidak bisa terlihat oleh mata, tapi Allah bisa kita “rasakan” dalam hati. Kalau kita yakin adanya Allah sebagai Tuhan – tapi tidak bisa kita rasakan dalam hati, maka alamat… bahwa pengertian “wujud” dalam sifat Allah ini belum kita pahami sepenuhnya.

Berikutnya adalah (yang terpenting dari sekedar teori), bagaimana cara agar kita bisa ‘merasakan wujud Allah’ itu…? Sebab tugas kita adalah, bukan berdebat mengenai ‘wujud’ Allah tetapi lebih kepada bagaimana ‘wujud’ itu bisa kita rasakan di hati kita masing-masing.

Cara yang paling mudah yaitu (langsung praktek) : kaitkan (atau hubung-hubungkan) semua yang kita lihat atau dengar dengan keberadaan Allah.

Misalnya kita melihat pohon mangga sedang berbuah. Coba (belajar) kaitkan keberadaan pohon mangga itu dengan Allah.

Atau kita sedang kehujanan, coba kaitkan dengan Allah. Atau kita melihat langit, bumi, bintang, gunung, lautan, dan lain sebagainya…

Atau kita sedang susah, atau sedang senang, atau lagi emosi, atau lagi apa saja… pokoknya kaitkan selalu dengan eksistensi (keberadaan) Allah.

Atau sedang melihat cewek cantik jalan di depan kita (untuk  para bujangan), coba kaitkan juga dengan keberadaan Allah. Pokoknya apa saja – kaitkan semua yang kita lihat, yang kita dengar, yang kita alami, dan semua aktifitas kita dengan keberadaan Allah.

Jika itu bisa kita lakukan (tentunya sedikit demi sedikit belajarnya) maka dapat dipastikan anda semua bisa “merasakan” “wujud” Allah dalam hati masing-masing.

Nah, cukup sekian sharing dari saya mengenai pemahaman salah satu sifat Allah yaitu “wujud’ Allah.

Banyak orang (mengaku) beriman kepada Allah, tetapi dia tidak bisa ‘melihat wujud’ Allah itu (eksistensi Allah) dalam kehidupan kita.

Kalau anda sudah bisa ‘merasakan’ bahwa Allah itu ada – dan nge’wujud (dalam tanda petik) dalam kehidupan anda, maka anda akan mengalami berbagai keajaiban dan keindahan yang belum pernah anda rasakan sebelumnya.

Salam.🙂


One thought on “Memahami ‘Wujud’ Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s