Karakteristik Ulama Pewaris Ajaran Baginda Nabi

3_31

Say, “If you should love Allah , then follow me, [so] Allah will love you and forgive you your sins. And Allah is Forgiving and Merciful.”

Katakanlah: “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surat Ali Imron ayat 31)

 

Bismillah hirrohman nirrohim.

Perhatikan kata “aku” diatas (saya beri tanda warna merah).

Yang dimaksud “aku” dalam ayat itu merujuk pada Baginda Nabi Muhammad SAW.

Allah menyampaikan kepada Baginda Nabi, kalau ada orang yang mengaku mencintai Allah maka orang itu harus mengikuti ajaran dan nasihat Baginda Nabi.

Yang jadi masalah adalah bahwa Baginda Nabi sudah “tiada” fisiknya, dan kita tidak hidup “sejaman” dengan beliau. Lalu “siapa” yang harus kita “ikuti”..?

Jawaban (yg sudah umum) : Kita harus mengikuti para Ulama sebagai pewaris ajaran Baginda Nabi.

Pertanyaan berikutnya : Apakah semua ulama DIJAMIN pasti mengikut ajaran Baginda Nabi..?

Jawab : Belum tentu juga.

TIDAK SEMUA orang yg bergelar Ulama adalah mereka yg mengikuti ajaran Baginda Nabi dengan sebenar-benarnya.

Banyak kasus dimasyarakat kita adanya oknum-oknum (yg mengaku) ulama.

Ada banyak kasus ulama yg mengajarkan sesuatu yang menyimpang dari ajaran Baginda Nabi (aliran sesat).

Ada banyak kasus ulama-ulama yg terjerat kasus A-Susila. Sebagaimana belum lama ini (saat saya menulis artikel ini) disiarkan di tipi ada seorang ulama yang membuat video porno dengan 2 orang gadis cantik. Yang membuat hati “miris”, di dalam video porno itu justru sang Ulamanya yg menjadi pemeran utama.
Yang lebih membuat “miris” lagi, ulama tsb adalah anggota MUI didaerahnya.

Ada lagi ulama yang membuka praktek pengobatan dengan metode “sihir”.
Ada juga ulama yg “sibuk” main politik demi eksistensi pengakuan diri.

Ada ulama yang menentukan tarif ceramah sangat tinggi demi sesuap nasi.

Ada ulama yang sibuk berburu Harta Karun.

Yang lebih ironis, (ada kasus) antara ulama yang satu dengan ulama yg lain saling berseberangan dan saling menyerang.

Kalau sudah begini, kita sebagai “umat” jadi bingung sendiri. Ulama yang SEPERTI apakah yg harus kita ikuti..?

Jawaban mudah untuk orang yang awam agama (secara syariat) adalah, kalau kita ingin mencari ulama yg sesungguhnya (pewaris Baginda Nabi) maka kita harus mencari orang-orang yang memiliki karakteristik (ciri-ciri) yaitu menyebarkan “kebajikan” TANPA UPAH, ajaran & prilakunya mengikuti Quran dan Sunah, dan kehidupan sehari-harinya “tidak jauh” dari kehidupan YATAMA WAL MASAKIN (kepedulian thd anak yatim dan fakir miskin).

Lihat 3 kalimat Kunci diatas.

1. Menyebarkan ajaran kebajikan tanpa upah.
2. Ajaran & prilakunya mengikuti Quran dan Sunah.
3. kehidupan sehari-harinya “tidak jauh” dari kehidupan YATAMA WAL MASAKIN (kepedulian thd anak yatim dan fakir miskin).

Ke-3 kalimat kunci diatas adalah MUTLAK, dan tidak bisa ditawar-tawar. Sebab ke-3 nya merupakan 1 kesatuan yg tidak bisa dipisahkan. (Insya Allah di artikel mendatang kita akan bahas ke-3 kunci ini satu persatu).

Ke-3 kalimat kunci diatas BUKAN Teori, tetapi PRAKTEK..!
Sebab orang yg paham TEORI Quran dan Hadist BELUM TENTU mempraktekkan apa yg diketahuinya.

Adakah ulama yg seperti itu…?

Jawab : Pasti ada, dan HARUS ada. Yang penting mau ga kita mencarinya (walaupun harus sampai ke ujung dunia).

Pertanyaan lainnya : Apakah hanya orang yang punya gelar Ulama saja yg berhak untuk diikuti..?

Jawab : Pertanyaan ini sulit dijawab apabila kita belum memiliki pemahaman yg mendalam (mumpuni).

Patokannya adalah, (dalam kajian hakikat) selama ada orang (di sekitar kita) yang “bisa” menunjukan ke-3 kunci diatas, maka orang tsb sudah layak untuk kita “ikuti”.

Walaupun dia bukan ulama…?

Jawab : Ya.. Meskipun orang itu (terkesan) bukan ulama, tapi selama bisa menunjukan ke-3 kalimat kunci diatas, maka orang itulah yg harus kita cari.

Tidak semua ulama bisa memiliki ke-3 kalimat kunci diatas. Dan orang-orang yg memiliki ke-3 kunci diatas dapat dipastikan orang tsb adalah ulama meskipun tidak memakai baju (busana/pakaian) seperti ulama pada umumnya.

Ulama atau bukan ulama, selama bisa menunjukan karakteristik ke-3 kunci diatas, dapat dipastikan Allah akan memberinya karunia “pemahaman” yang (bahkan) melebihi dari pemahaman ulama pada umumnya.

Seringkali kita terkecoh dengan penampilan.
Kita sering tertipu dengan “busana fisik” yg ditunjukan oleh seorang ulama pada umumnya.

Tetapi bagi kita (yang awam) sebaiknya harus “pintar-pintar” dalam memilih dan memilah “siapa” orang yang pantas untuk kita “ikuti”, dan siapakah yang layak untuk disebut ulama.

Kita ambil contoh salah satu kekasih Allah yang bernama Kanjeng Sunan Kalijaga.

sunan kalijagaBeliau “tidak” memakai busana seperti ulama pada umumnya (bersorban atau pakai baju koko, dll…).
Beliau memakai busana seperti “Dalang” (pakaian tradisional Jawa).
Tetapi siapa yang tidak tahu kalau Kanjeng Sunan Kalijaga adalah seorang WALI ALLAH..?

Sekali lagi perlu kita ingat selalu, bahwa seorang ulama tidak dilihat dari busananya, tetapi dilihat dari “PRILAKU KEHIDUPANNYA”.

Selama prilaku kehidupan sehari-harinya mencerminkan ke-3 kunci diatas, insya allah orang itulah yang harus kita cari, dan kita ikuti nasihat-nasihatnya.

Insya Allah pula dengan mengikuti “orang itu”, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita, dan membimbing menuju Hidayah-Nya.

Salam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s